restuningdarajat

Ayo Sekolah


Leave a comment

Belajar dari Sistem pendidikan di New Zealand..Series… ………….Introduction……………

Hai teman semua, lama tidak menulis…masih latihan buat Blog jadi kontinuitasnya masih belum teruji. Di blog kali ini saya akan sharing tentang system pendidikan di New Zealand dari kacamata seorang Ibu yang concern dengan pendidikan. Saya tulis topik ini secara series karena terlalu panjang kalo hanya ditulis semua dalam satu blog.

Sedikit bercerita, setelah submit final thesis S3, saya kembali ke Indonesia dan harus menata ulang keluarga dari nol, terutama berkaitan dengan anak-anak sekolah dan pekerjaan saya. Sebenarnya sudah lama ingin untuk sharing system pendidikan di New Zealand, Kenapa ingin menulis tentang ini?? Karena system yang sangat berbeda di terapkan di New Zealand dengan negara asal saya Indonesia. Saya tidak sedang membandingkan antara dua negara tersebut, namun ada harapan semoga tulisan ini ada manfaatnya untuk pembaca khususnya. Saya semakin termotivasi untuk menulis setelah ngobrol dengan salah seorang teman yang bekerja di Kemendikbud yang kebetulan sedang mendapatkan tugas kedinasan di New Zealand dan beliau menyampaikan ingin tahu pengalaman pendidikan di New Zealand dari yang mengalami langsung dan sebelumnya sudah ada pengalaman di Indonesia.

Sebagai orang tua yang concern ke pendidikan anak, mendapatkan pengalaman menyekolahkan anak di luar negeri merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk diri saya pribadi. Saya belajar bagaimana New Zealand membentuk karakter generasi masa depannya melalui sekolah.  Saya merasa beruntung karena merasakan system pendidikan di New Zealand di hampir semua level pendidikan. Saya kuliah di University, anak pertama di College kelas 10-12, anak ke 2 di primary school kelas 6-8 dan college kelas 9-10, anak ke 3 di preschool dan di primary school sampai kelas 2.

Dalam series ini saya akan sharing pengalaman mendampingi sekolah anak dari preschool, primary school, college, dan tidak ketinggalan pengalaman saya sebagai mahasiswa di New Zealand, pengalaman ini bersifat personal, yang berarti banyak kemungkinan pengalaman saya berbeda dengan pengalaman ibu-ibu yang menyekolahkan di New Zealand dan negara lain. Sebelumnya saya mulai dengan bebagai pertanyaan sebelum bawa anak saat kuliah keluar negeri, terangkum dalam Q and A.

Q and A bawa Anak saat kuliah keluar negeri

  1. Ribet tidak bawa anak padahal ibu keluar negeri untuk sekolah?

Jawaban saya untuk pertanyaan ini bersifat subyektif dan relative, maksudnya standard ribet dan tidak suatu hal bersifat sangat personal. Kalo untuk saya pribadi jawabannya Sangat tidak ribet, namun kita perlu strategy yang tepat. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat akan membawa anak bersama Ibu untuk belajar ke luar negeri..

  1. Tujuan keluarnegeri, “ untuk kuliah”, ketika sudah niat untuk kuliah sebisa mungkin focus ke tujuan utama. Namun sebagai seorang Ibu yang diberi amanah anak-anak dari Allah SWT juga mempunyai tugas merawat dan mendidik anak, amanah tetap dikerjakan tanpa menjadi hambatan untuk tujuan utama. Harus siap bekerja keras dan membagi waktu antara belajar dan ngurus anak. Sebagai seorang perempuan kita diberi berkah ..multitasking..sehingga yakin dan percaya bisa kita kuliah sambil urus anak, apalagi group ibu-ibu seperti saya yang bisa nangis berminggu-minggu dan akhirnya tidak bisa belajar karena pisah dengan anak.
  2. Usia Anak..hal ini berkaitan gambaran pembagian waktu untuk urus anak dan kuliah, semakin kecil usia anak semakin banyak waktu yang harus kita sediakan untuk merawatnya. Jika anak masih di bawah 9 th atau year 5 di NZ berarti anak harus diantar jemput sekolah, anak dibawah 3-5 tahun boleh sekolah 20 jam per week gratis kalo lebih harus bayar, anak dibawah 3 tahun boleh ke play centre dengan pendampingan orang tua. Penitipan anak, saya pernah coba-coba cari info dihitung-hitung $800-1000 per month. Anak diatas 9 tahun lebih mandiri dan bisa menjadi teman ibu saat belajar.
  3. Program study yang kita ambil, misal program yang banyak praktik lapangan pindah-pindah kota, mungkin akan menjadi susah kalo bawa anak dan hanya ber dua. Program study yang perkuliahan full tiap hari (jarang ada) akan perlu dana lebih untuk menitipkan anak. Mahasiswa PhD di NZ lebih fleksible karena tidak ada kelas kuliah dan hanya bekerja dengan project penelitian. Perlu dipertimbangkan untuk mahasiswa PhD di NZ bahwa tahun pertama study adalah masa yang kritis, full time PhD student diberi waktu 12-15 months untuk menyelesaikan proposal untuk mendapatkan status PhD candidate. Apabila tidak bisa menyelesaikan berbagai konsekwensi harus dihadapi.
  4. Apa yang perlu dipersiapkan

Sebelum ke NZ sempatkan mencari informasi sedikit melalui internet tentang pendidikan di NZ. Misal Primary school dimulai usia 5 th, sekolah terdekat dengan tempat tinggal or kampus.

  1. Persyaratan apa saja?

Konsep sekolah diNZ menurut saya, sekolah adalah kebutuhan hidup seperti makan dan minum, jadi hal yang alami normal dan wajar. Bukan arena kompetisi sehingga masuk sekolah harus di test ini itu. Daftar sekolah sangat mudah, datang ke sekolah, level ssi umur anak kita, bawa Visa student Ibu, dan Visa student anak kemudian isi form pendaftaran. Tidak perlu surat pindah, raport dari sekolah Indonesia, dan tidak ada test masuk. Mudah bukan…

Untuk detail per level sekolah….ikuti terus seri nya yaa…

  1. Biaya sekolah?

Untuk anak dari student, maksudnya..anak-anak yang orangtua (Ibu/bapaknya) student khususnya Master dan PhD, anak-anak diperlakukan seperti domestic student. Tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada SPP, adanya biaya beli alat tulis jika disediakan sekolah, dan Donation yang jumlahnya akan saya jelaskan detail di masing-masing seri..

  1. Baiknya bawa anak atau tidak saat kuliah?

Ini pertanyaan pamungkas…jadi bawa anak atau tidak….jawabnya silahkan pertimbangan positif dan negatifnya terhadap study dan anak anda.

Pengalaman saya, saya punya anak 3; 12 tahun, 11 tahun, dan 2.5 tahun. Saat memulai PhD Saya memilih anak yang 11 tahun untuk saya bawa saat tahun pertama kuliah, dengan pertimbangan anak sudah mandiri dan bisa bekerjasama, dan sebagai seorang ibu rindu dan kewajiban untuk merawat dapat dilakukan minimal pada satu dari 3 anak. Setelah penelitian di Indonesia baru saya bawa semua anak beserta suami, karena bersedia mendampingi dan membantu merawat anak.

Saya tidak memilih anak ke 3 dengan pertimbangan proposal saya harus selesai tepat waktu, saya tidak punya dana cukup untuk menitipkan anak di day care, dan ada orang-orang yang bisa dipercaya di Indonesia merawat anak saya.

Membawa anak ke luar negeri banyak membawa manfaat untuk anak itu sendiri, terutama untuk pengalaman hidup mereka. Disisi lain pertimbangkan kembali masak-masak jika anak masih terlalu kecil, ibu sibuk kuliah, dana terbatas untuk mengirim ke day care, atau tidak ada yang menjaga saat ibu kuliah. Seorang ibu yang bisa membawa anak saat kuliah itu suatu berkah yang tidak ternilai, namun bagi yang tidak dapat membawa, manfaatkanlah waktu semaksimal mungkin untuk belajar, selesaikan kuliah ASAP, dan kembali ke tanah air segera untuk berkumpul dengan keluarga kembali.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini…ikuti terus..seri..berikutnya…

 

13 November 2017

Advertisements


Leave a comment

Buat kamu yang English minimalis dan pengen kuliah overseas

Pengen kuliah di luar negeri dengan English yang pas-pasan atau malahan dibawah standard, bisa kah? BISA…gimana caranya?

Blog ke 2 ini, sharing proses mendapatkan IELTS 6.5 sebagai syarat melanjutkan kuliah overseas terutama dinegara-negara commonwealth seperti UK dkk. Niat yang kuat, berdoa, berusaha sepenuh hati, dan fokus adalah kunci sukses untuk mencapai apapun impian kita, termasuk mendapatkan score IELTS 6.5. Awalnya saya tidak pernah tahu apa itu IELTS, kalo TOEFL sudah pernah terpapar dan sudah pernah les karena syarat S2 di UI minimal TOEFL 450 kalo tidak salah tahun 2005. Jadi terbayang yaa ….saya modal NOL untuk IELTS

Belajar Bahasa Inggris untuk kuliah, tidak pernah saya impikan sebelumnya, saya mengawali dengan enrol ke program IELTS course DIKTI gelombang-2 Sept-Des 2011. Sebagai dosen yunior di salah satu perguruan tinggi negeri di JABAR, saya berkecimpung dengan bacaan journal articles dan text book English, namun saya merasa English saya kurang, itulah tujuan awal enrol ke DIKTI English course. Selain itu programnya ini gratis, dikasih uang saku, tiket disiapkan, dan dikasih fasilitas test IELTS yang biayanya muahal untuk kantong PNS seperti saya. Takdir Allah SWT, saat saya ikut program EEP Dikti, saya bertemu dengan teman satu kelas yang zupper kompak dan saling memotivasi untuk kuliah overseas, itulah starting point niat untuk lanjut kuliah.

Mengikuti IELTS course selama 3 bulan dari jam 9-4 sore, saya masih merasa weak, krn 3 bln IELTS programme yg didevelop oleh DIKTI 1.5 bulannya kita belajar TOEFL, binggung kan ..sama… Dorongan untuk mendapatkan hasil maksimal sangat kuat, karena saya merasa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan telah meninggalkan keluarga di Bandung, merantau ke UGM Yogya. Akhirnya bersama 6 teman yang mempunyai semangat yang sama kami mencari Private course, dapatlah di UII, kami ambil kelas jam 7-9 malam.

Akhir Desember saya test IELTS dan hasilnya score 5.5. Sedih… pasti, tapi Mr Imam guru private saya memotivasi “Mbak Restu, Bisa dapat score 6.5..dengan syarat pulang ke Bandung ambil les intensive lagi, karena ini baru fase pengenalan, ketika les yang selanjutnya akan ke tahap paham dan menguasai”.  Saya manut ke advice guru, saya ambil Super Intensive persiapan test IELTS di IEDUC http://www.ieducindonesia.com/ selama 1 bulan, jam 8.30-4.30 senin-sabtu. Bagaimana dengan pekerjaan saya ? tetap saya bertanggung jawab, saya ambil kerjaan bimbingan mahasiswa di hospital, jam 6.30 saya sudah di hospital, kemudian jam 8.15 berangkat les, jam 4.30- 7 malam saya kembali ke hospital.

Mengapa saya pilih IEDUC, bukan iklan, tapi manfaat besar telah saya rasakan: Bimbingan di IEDUC saya rasakan sangat efektif, fokus ke persiapan IELTS, banyak testimoni alumni IEDUC yang telah sukses, instruktur berpengalaman, dan suasana kekeluargaan yang membuat suasana belajar rileks. Februari 2012, saya test IELTS ke 2, dan hasilnya ..jeng..jeng..score 6.5, dengan sebaran Listening 7, Writing 6.5, Reading 6, Speaking 5.5, alhamdulillah bisa dipake untuk apply ke University, walaupun masih ada score yg di bawah 6.

Di univeritas tempat saya kuliah PhD in Nursing, mensyaratkan skor minimal IELTS 6.5 dengan tidak ada yang dibawah 6, dengan sertifikat IELTS yang ada saya di terima, namun saya harus mengikuti programme EPP (English Proficiency Programme) di Victoria University selama 4 bulan http://www.victoria.ac.nz/study/preparing/english-language-prep, dan..berinteraksi dengan English-pun belum usai..saya lanjut belajar to deal with English di NZ from March-June 2013, finally I passed the English requirement.

Pertanyaan berikutnya..apakah dengan IELTS 6.5 berati kamu tidak bermasalah lagi dengan bahasa Inggris saat proses study?…karena English adalah foreign language buat Indonesian, terutama saya, jadi IELTS 6.5 sama sekali bukan jaminan tidak ada ketemu masalah dengan language, kalo diibaratkan, buat saya setelah persyaratan bahasa terpenuhi seperti keluar dari mulut buaya, dan memulai study adalah masuk mulut macan, tapi jangan kawatir macan bisa dijinakkan.. iya tho???…

Keep fighting…inshaallah…target accomplished…

Pengen tahu tentang pengalaman mencari scholarship…stay tuned….

Wellington, 25 April 2017

Restuning Darajat

Restuning.darajat@gmail.com