restuningdarajat

Ayo Sekolah


Leave a comment

Ada apa dengan Karori?

Mo ninggalin NZ, mulai flash back kenangan selama tinggal di negeri awan putih ini. Saya tinggal di NZ kurang lebih 4.5 tahun untuk mengikuti program kursus bahasa Inggris dan study PhD. Selain kuliah, saya bekerja, dan tentunya jalan-jalan ke hampir semua kota di New Zealand. Terdapat 2 pulau besar di negeri ini North dan South Island.  Saya awali sharing tentang jalan-jalan di New Zealand dari Karori, suburb terbesar di district Wellington, saya tinggal di daerah ini lebih dari 2 tahun. Kenapa tinggal di sana, karena harga akomodasi yang relative lebih murah dari wilayah lain yang dekat dengan city, walaupun katanya lebih dingin dari daerah lain, untuk mahasiswa beasiswa dan berkeluarga dingin apalah artinya dibanding ndak bisa jalan-jalan krn stipend habis untuk bayar rumah (hehehe…ndak nyambung).  Selain itu, di Karori banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungin sebagai alternative kegiatan weekend di Wellington, gratis pulak (student banget)…apa sajah….

  1. Makara Windfarm

Salah satu tempat amazing deket rumah, dan baru nyadar ternyata dah nyambangin windfarm ini lebih dari 10 kali, rajin banget…. Apa yang bikin selalu pengen balik, dan pengen ngajak temen yg baru datang Welly untuk kesana. Pertama viewnya Masyaallah indahnya. Ke dua technology pembangkit tenaga angin belum pernah lihat di Indonesia, selain itu windfarm ini berada di tengah-tengah peternakan sheep, lengkaplah rasanya sudah…seperti di luar negeri …

 

Foto-foto diatas adalah contoh keseruan ngumpul-ngumpul student dan beberapa teman permanent residents saat saat summer piknik.  Bagaimana menuju kesana, naik mobil kurang lebih 20-30 menit dari Karori mall karena tidak ada public transportation. Jalan kaki juga boleh untuk yang suka tramping..kata yang dah pernah sekitar 7 jam dari the last bus stop no 3 di Karori Park (saya kurang paham 7 jam itu return or one way). Ada juga skyline track dari Karori ke Johnsonville, buat yang suka tramping bisa explore link ini, https://wellington.govt.nz/~/media/maps/files/skyline.pdf?la=en

  1. Makara beach

Dari Makara windfarm, pemandangan dilanjut ke beach. Kalo yang suka tramping, ada jalan tembus dari windfarm ke beach, jalan yaa….jadi kamu mesti siap2 sepatu dan costum yang nyaman untuk jalan. Kalo yang ndak suka jalan, bisa pake mobil sekitar 10-15 menit an.Pantainya anginnya besar,  dan batunya besar-besar bukan pasir, kl aku sie ndak suka lama-lama disana, penyakit tua, “masuk angin”. Pernah ke beach, dapat batu kayak ulekan, dibawahlah pulang lumayan buat keprek bawang putih (ibu-ibu banget kemana2 yang diingat bawang putih)

Seperti ini lah gambaran Makara beach

Makara beach

  1. Makara cemetery

Rasanya tak lengkap kalo sudah di daerah Makara tidak mampir berziarah. Indonesia banget walaupun dah overseas hal mistis salalu ada ceritanye, siapa tahu kuburannya…….. . Sebenarnya tidak ada yang special dikunjungin, paling tidak ada blok untuk kuburan saudara Muslim di Makara cemetery. Image kuburan di Indonesia dan di Makara “rada” beda. Di Indonesia khususon kampung saya di Karang Lewas Kidul, Purwokerto. Kalo ada yang bilang kuburan, kebayang serem, pohon besar2, ditebing dibawahnya ada sungai, dan terpencil. Di Makara, kuburan jauh dari kata seram, yang ada bersih dan rapi, dan di blok-blok sesuai agama, kalo yang atheis, ada juga kali, tapi saya ndak begitu pay attention.

Makara cemetery

 

  1. Wright Hill Fortress

Tempat bersejarah untuk New Zealand, pertama dibangun saat Perang dunia ke 2, disini kita masuk ke gua yang dijadikam camp saat World War  II, didalamnya setelah melewati lorong, kita bisa melihat ada ruang senjata, ruang operational, sampai ke tempat rudal ditembakkan.

 

Masuk kedalam gua, hawanya dingin, jadi kamu perlu pake jaket apa aja brand nya boleh ndak harus Kat***** kayak yg eike pake (eehmmm..pameer…kata tetangga), selain itu memakai sepatu yang comfortable dan tertutup juga disarankan, karena ada beberapa area yang berair. Tidak perlu senter karena didalam cukup cahaya untuk jalan, kalo mo bawa buat jaga-jaga boleh juga. Open days tidak setiap hari, biasanya waktu hari libur national. Open day biasanya diumumkan di Radio, or flyers di mall. Untuk masuk ke fortress ini dikenakan biaya, dulu kita ambil yang Family pass bisa untuk 2 adults dan 3 children, $15 NZD. Untuk update open days dan ticket, bisa di cek http://wrightshillfortress.org.nz/open-days/

Setelah jalan lumayan lama di gua, mungkin 1 jam an, ini part yang paling favorit..look out …..jeng..jeng..jeng….beginilah view nya…indah kan..

GUA 3

  1. Johnston Hill

Tempat ini worth untuk dikunjungin terutama yang suka tramping dan level beginner, kenapa? Karena 2 teman yang sedang hamil besar lebih dari 7 bulan, bisa mencapai puncak dengan aman. Apalagi untuk yang hanya berbadan satu, pasti bisa. Jalan pelan, enjoy view, dan obral obrol dengan teman sekitar 30-50 menit akhirnya akan sampai di puncak nan indah. Bagus kan untuk wefie..

Janjian dengan teman-teman, jalan bareng..duuh..bakalan susah kayaknya dapat suasana gini kalo dah pulang

  1. Karori Park

Park ini tempat favorite anak saat pengen main or playdate ama teman temannya, selalu bermimpi kapan yaa di Indonesia ada fasilitas begini. Bisa jogging di udara fresh, bersih, dan dibeberapa titik ada alat Gym

 

Setelah berolahraga, anak-anak bisa main di play ground yang dilengkapi dengan berbagai mainan gratis. Ini yang bakalan dikangenin anak-anak pas pulang ke Indonesia. Di Bandung dulu kalo pengen main mesti ke mall, ada play ground area dan bayar, ndak tahu sekarang, semoga semakin indah dan nyaman juga. Ada café juga menghadap ke lapangan hijau, bisa cap cus sama temen sambil ngopi-ngopi…

  1. Wilton bush

Wilton sebenarnya sudah diluar Karori area, tapi karena deket jadilah saya kategorikan Karori. Jarak dari rumah ke Wilton bush hanya 5 menit, brati rumah kamu dikampung dong Res…bener banget hehehe, Wilton ini suburb kecil deket Karori. Bagi yang hobby tramping, ini pilihan tempat yang menarik, levelnya sedang sampai advance, karena ada beberapa pilihan jalur tramping. Tidak perlu takut nyasar karena setiap jalur ada petunjuk jalannya, biasanya segitiga warna biru, kuning, atau merah, dipasang dipohon-pohon yang dilewatin. Di Wilton ini juga ada pohon yang umurnya sudah 800 tahun lebih, seperti tempat kita foto dibawah ini …

Wilton bUSH 1

 

Setelah lelah tramping, kita bisa BBQ dengan alat-alat yang telah disediakan, all for free yang penting dibersihin lagi habis pake, dan jam pake dibatasin hanya sampai 6.30 pm.

Wilton bush 2

Abaikan tissue gulung yang naik drajatnya ke tempat BBQ…

  1. Zelandia

 Finally, Zelandia…ini salah satu tempat yang mendeskripsikan betapa New Zealand bangga dengan alam yang menjadi salah satu asset negara dan menjaganya. Ingat selalu kata-kata suami…”disini yaa saking alamnya indah dan terjaga, burung-burung aja kelihatan nyaman dan happy tinggal dan terbang ” …Yang suka tramping bisa puas..luasnya 225 km, monggo di jelajah. Untuk enjoy dan menikmati alam yang indah kita beli ticket dulu, harga ticket nya bisa di update disini http://www.visitzealandia.com

Zelandia

Saya pertama mengunjungi Zelandia bareng mbak di foto ini ( maaf yaa mbak fotonya di pasang, ndak nemu foto lain), untuk student yang merasa mahal dengan harga ticket masuk yang saat ini $20, kamu bisa lihat schedule “Gold Coin Days” hari dimana kita bisa menikmati beberapa tempat wisata di Wellington  seperti Zelandia and Zoo hanya dengan membayar Gold Coin alias $2. Biasanya bulan Mei-Juni, ada pengumumannya disini salah satunya https://www.eventfinda.co.nz/whatson/events/wellington

 

Semoga tulisannya bisa jadi alternative info tentang Wellington…

 

Wellington, 11 May 2017

 

 

Advertisements


Leave a comment

Belajar dari Sistem pendidikan di New Zealand..Series… ………….Introduction……………

Hai teman semua, lama tidak menulis…masih latihan buat Blog jadi kontinuitasnya masih belum teruji. Di blog kali ini saya akan sharing tentang system pendidikan di New Zealand dari kacamata seorang Ibu yang concern dengan pendidikan. Saya tulis topik ini secara series karena terlalu panjang kalo hanya ditulis semua dalam satu blog.

Sedikit bercerita, setelah submit final thesis S3, saya kembali ke Indonesia dan harus menata ulang keluarga dari nol, terutama berkaitan dengan anak-anak sekolah dan pekerjaan saya. Sebenarnya sudah lama ingin untuk sharing system pendidikan di New Zealand, Kenapa ingin menulis tentang ini?? Karena system yang sangat berbeda di terapkan di New Zealand dengan negara asal saya Indonesia. Saya tidak sedang membandingkan antara dua negara tersebut, namun ada harapan semoga tulisan ini ada manfaatnya untuk pembaca khususnya. Saya semakin termotivasi untuk menulis setelah ngobrol dengan salah seorang teman yang bekerja di Kemendikbud yang kebetulan sedang mendapatkan tugas kedinasan di New Zealand dan beliau menyampaikan ingin tahu pengalaman pendidikan di New Zealand dari yang mengalami langsung dan sebelumnya sudah ada pengalaman di Indonesia.

Sebagai orang tua yang concern ke pendidikan anak, mendapatkan pengalaman menyekolahkan anak di luar negeri merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk diri saya pribadi. Saya belajar bagaimana New Zealand membentuk karakter generasi masa depannya melalui sekolah.  Saya merasa beruntung karena merasakan system pendidikan di New Zealand di hampir semua level pendidikan. Saya kuliah di University, anak pertama di College kelas 10-12, anak ke 2 di primary school kelas 6-8 dan college kelas 9-10, anak ke 3 di preschool dan di primary school sampai kelas 2.

Dalam series ini saya akan sharing pengalaman mendampingi sekolah anak dari preschool, primary school, college, dan tidak ketinggalan pengalaman saya sebagai mahasiswa di New Zealand, pengalaman ini bersifat personal, yang berarti banyak kemungkinan pengalaman saya berbeda dengan pengalaman ibu-ibu yang menyekolahkan di New Zealand dan negara lain. Sebelumnya saya mulai dengan bebagai pertanyaan sebelum bawa anak saat kuliah keluar negeri, terangkum dalam Q and A.

Q and A bawa Anak saat kuliah keluar negeri

  1. Ribet tidak bawa anak padahal ibu keluar negeri untuk sekolah?

Jawaban saya untuk pertanyaan ini bersifat subyektif dan relative, maksudnya standard ribet dan tidak suatu hal bersifat sangat personal. Kalo untuk saya pribadi jawabannya Sangat tidak ribet, namun kita perlu strategy yang tepat. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan saat akan membawa anak bersama Ibu untuk belajar ke luar negeri..

  1. Tujuan keluarnegeri, “ untuk kuliah”, ketika sudah niat untuk kuliah sebisa mungkin focus ke tujuan utama. Namun sebagai seorang Ibu yang diberi amanah anak-anak dari Allah SWT juga mempunyai tugas merawat dan mendidik anak, amanah tetap dikerjakan tanpa menjadi hambatan untuk tujuan utama. Harus siap bekerja keras dan membagi waktu antara belajar dan ngurus anak. Sebagai seorang perempuan kita diberi berkah ..multitasking..sehingga yakin dan percaya bisa kita kuliah sambil urus anak, apalagi group ibu-ibu seperti saya yang bisa nangis berminggu-minggu dan akhirnya tidak bisa belajar karena pisah dengan anak.
  2. Usia Anak..hal ini berkaitan gambaran pembagian waktu untuk urus anak dan kuliah, semakin kecil usia anak semakin banyak waktu yang harus kita sediakan untuk merawatnya. Jika anak masih di bawah 9 th atau year 5 di NZ berarti anak harus diantar jemput sekolah, anak dibawah 3-5 tahun boleh sekolah 20 jam per week gratis kalo lebih harus bayar, anak dibawah 3 tahun boleh ke play centre dengan pendampingan orang tua. Penitipan anak, saya pernah coba-coba cari info dihitung-hitung $800-1000 per month. Anak diatas 9 tahun lebih mandiri dan bisa menjadi teman ibu saat belajar.
  3. Program study yang kita ambil, misal program yang banyak praktik lapangan pindah-pindah kota, mungkin akan menjadi susah kalo bawa anak dan hanya ber dua. Program study yang perkuliahan full tiap hari (jarang ada) akan perlu dana lebih untuk menitipkan anak. Mahasiswa PhD di NZ lebih fleksible karena tidak ada kelas kuliah dan hanya bekerja dengan project penelitian. Perlu dipertimbangkan untuk mahasiswa PhD di NZ bahwa tahun pertama study adalah masa yang kritis, full time PhD student diberi waktu 12-15 months untuk menyelesaikan proposal untuk mendapatkan status PhD candidate. Apabila tidak bisa menyelesaikan berbagai konsekwensi harus dihadapi.
  4. Apa yang perlu dipersiapkan

Sebelum ke NZ sempatkan mencari informasi sedikit melalui internet tentang pendidikan di NZ. Misal Primary school dimulai usia 5 th, sekolah terdekat dengan tempat tinggal or kampus.

  1. Persyaratan apa saja?

Konsep sekolah diNZ menurut saya, sekolah adalah kebutuhan hidup seperti makan dan minum, jadi hal yang alami normal dan wajar. Bukan arena kompetisi sehingga masuk sekolah harus di test ini itu. Daftar sekolah sangat mudah, datang ke sekolah, level ssi umur anak kita, bawa Visa student Ibu, dan Visa student anak kemudian isi form pendaftaran. Tidak perlu surat pindah, raport dari sekolah Indonesia, dan tidak ada test masuk. Mudah bukan…

Untuk detail per level sekolah….ikuti terus seri nya yaa…

  1. Biaya sekolah?

Untuk anak dari student, maksudnya..anak-anak yang orangtua (Ibu/bapaknya) student khususnya Master dan PhD, anak-anak diperlakukan seperti domestic student. Tidak ada biaya pendaftaran, tidak ada SPP, adanya biaya beli alat tulis jika disediakan sekolah, dan Donation yang jumlahnya akan saya jelaskan detail di masing-masing seri..

  1. Baiknya bawa anak atau tidak saat kuliah?

Ini pertanyaan pamungkas…jadi bawa anak atau tidak….jawabnya silahkan pertimbangan positif dan negatifnya terhadap study dan anak anda.

Pengalaman saya, saya punya anak 3; 12 tahun, 11 tahun, dan 2.5 tahun. Saat memulai PhD Saya memilih anak yang 11 tahun untuk saya bawa saat tahun pertama kuliah, dengan pertimbangan anak sudah mandiri dan bisa bekerjasama, dan sebagai seorang ibu rindu dan kewajiban untuk merawat dapat dilakukan minimal pada satu dari 3 anak. Setelah penelitian di Indonesia baru saya bawa semua anak beserta suami, karena bersedia mendampingi dan membantu merawat anak.

Saya tidak memilih anak ke 3 dengan pertimbangan proposal saya harus selesai tepat waktu, saya tidak punya dana cukup untuk menitipkan anak di day care, dan ada orang-orang yang bisa dipercaya di Indonesia merawat anak saya.

Membawa anak ke luar negeri banyak membawa manfaat untuk anak itu sendiri, terutama untuk pengalaman hidup mereka. Disisi lain pertimbangkan kembali masak-masak jika anak masih terlalu kecil, ibu sibuk kuliah, dana terbatas untuk mengirim ke day care, atau tidak ada yang menjaga saat ibu kuliah. Seorang ibu yang bisa membawa anak saat kuliah itu suatu berkah yang tidak ternilai, namun bagi yang tidak dapat membawa, manfaatkanlah waktu semaksimal mungkin untuk belajar, selesaikan kuliah ASAP, dan kembali ke tanah air segera untuk berkumpul dengan keluarga kembali.

Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini…ikuti terus..seri..berikutnya…

 

13 November 2017


2 Comments

Berburu Scholaship….

Kuliah di luar negeri sepertinya menjadi impian banyak orang termasuk saya, namun dengan kondisi dana tak ada, apakah my dream would be come true? YES sure…cari scholarship jawabannya..

Blog kali ini tentang pengalaman saya saat berburu dan interview beasiswa, setelah ada supervisor, dan letter of offer dari university, mo kuliah duit dari mana?? Beasiswa apa yaa?

Banyak link beasiswa keluar negeri khususnya untuk S2-S3, contoh link http://www.beasiswapascasarjana.com/2016/04/daftar-beasiswa-s2-luar-negeri.html

Kalau kamu sudah ada Letter of Offer (LOO) dari universitas tujuan, atau di Indonesia sering disebut LOA (letter of acceptance) peluang untuk mendapatkan beasiswa dari manapun sangat besar. Apa itu LOO ? surat yang diterbitkan universitas sebagai bukti telah diterima sebagai student.  Untuk mendapatkan LOO, haruskah melalui agent? Bisa ya bisa tidak, kalo saya pilih TIDAK karena selain prosesnya mudah, juga bisa jadi pengalaman belajar.  Pengalaman saya, tahap mendapat LOO;  buka link university, baca cara enroll, dan penuhi/kirim persyaratan, sudah… . Kalo persyaratan lengkap dan sesuai, tinggal tunggu suratnya dari rumah. Untuk PhD, lagi-lagi pengalaman saya, akan lebih mudah mendapatkan LOO kalo sudah ada supervisor, malahan ditempat saya kuliah di Victoria university of Wellington, selain mendapat LOO, saya dibantu juga cari scholarshipnya.

Beasiswa yang pernah saya apply: Fulbright, gagal ditahap administrasi, beasiswa DIKTI tidak dipanggil wawancara karena Letter of offer dari Victoria dan Leeds university saat itu tidak kunjung tiba. Lolos untuk IDB (Islamic Development Bank) scholarship, dan NZAS (New Zealand ASEAN Scholar Award). Akhirnya saya pilih NZAS.

Tahapan apply beasiswa; buka web, penuhi persyaratan, dan kirim. Saran..,jangan last minute, jadi lebih nyaman. Pengalaman pribadi, saat apply NZAS tahun 2012, deadline pengiriman tgl 14 April (kalau tidak salah), cap pos, saya kirim hari terakhir, dasar orang kampung, ndak mantap rasanya kl tidak diantar langsung, saya paksa Anjung (suami tercinta) untuk ngantar ke Jakarta, setelah ngantar dia telp…gimana sie pake diantar, kata satpamnya di kirim aja pake pos, malu-maluin…( maaf ya 😉 )

Bulan Juli 2012 saya di email katanya masuk ke tahap short listing, iya..iya aja saya waktu itu..apa maksudnya.. no idea.., yang penting ada kabar ajah…bulan November atau Desember 2012, di email lagi tentang tanggal wawancara…duh lupa tanggalnya padahal hari bersejarah (maklum emak..emak..).

Beasiswa ke 2 yang saya dipanggil interview adalah beasiswa IDB, mengapa saya bisa apply, karena ada kerjasama antara UNPAD dan IDB, aplikasi mengunakan form beasiswa DIKTI, dan setelah lolos tahap administrasi dilanjutkan dengan tahap wawancara.  Maret 2012 Saya wawancara dengan IDB dan pada bulan Juli 2012 diumumkan diterima, tidak diambil karena alasan tertentu.

Dari 2 interview scholarship, kira-kira persiapan interview hari H begini..…

  1. Berdoa
  2. Untuk online interview, pastikan sarana telekomunikasi bagus seperti jika menggunakan handphone pastikan dapat sinyal yang kuat dan tidak putus-putus
  3. Untuk interview face to face: eyes contact, duduk dan bicara confident, full smile, rapi dan wangi
  4. Bawa copy-an proposal, siapa tahu perlu,
  5. Semua interview dalam bahasa English
  6. Pertanyaan saat interview dengan NZAS, ada 2 interviewer, pertanyaan seputar ; kegiatan saat ini, kegiatan di community, peran di community, apa hubungan proposal saya dengan bidang ekonomi dan pertanian, apa yang akan dilakukan setelah selesai study, kira-kira seperti itu…
  7. Interview dengan IDB, ada sekitar 3 panelis, pertama bertanya seputar siapa saya, kesiapan personal dan kesiapan keluarga termasuk persetujuan suami. Panelis kedua, bertanya seputar kesiapan untuk tinggal overseas, tantangan alam, kesehatan, dan adaptasi proses belajar. Panelis ke 3, bertanya tentang detail proposal, dari background, literature review, dan methodology, bahkan aplikasi hasil riset setelah selesai study.

 

Terus memotivasi diri dan berpikir positif penting ketika kita mempunyai target, termasuk target untuk mendapatkan beasiswa.

 

Semangat!!!! untuk teman-teman yang sedang berburu beasiswa.

 

Wellington, 25 April 2017

Restuning Darajat


Leave a comment

Buat kamu yang English minimalis dan pengen kuliah overseas

Pengen kuliah di luar negeri dengan English yang pas-pasan atau malahan dibawah standard, bisa kah? BISA…gimana caranya?

Blog ke 2 ini, sharing proses mendapatkan IELTS 6.5 sebagai syarat melanjutkan kuliah overseas terutama dinegara-negara commonwealth seperti UK dkk. Niat yang kuat, berdoa, berusaha sepenuh hati, dan fokus adalah kunci sukses untuk mencapai apapun impian kita, termasuk mendapatkan score IELTS 6.5. Awalnya saya tidak pernah tahu apa itu IELTS, kalo TOEFL sudah pernah terpapar dan sudah pernah les karena syarat S2 di UI minimal TOEFL 450 kalo tidak salah tahun 2005. Jadi terbayang yaa ….saya modal NOL untuk IELTS

Belajar Bahasa Inggris untuk kuliah, tidak pernah saya impikan sebelumnya, saya mengawali dengan enrol ke program IELTS course DIKTI gelombang-2 Sept-Des 2011. Sebagai dosen yunior di salah satu perguruan tinggi negeri di JABAR, saya berkecimpung dengan bacaan journal articles dan text book English, namun saya merasa English saya kurang, itulah tujuan awal enrol ke DIKTI English course. Selain itu programnya ini gratis, dikasih uang saku, tiket disiapkan, dan dikasih fasilitas test IELTS yang biayanya muahal untuk kantong PNS seperti saya. Takdir Allah SWT, saat saya ikut program EEP Dikti, saya bertemu dengan teman satu kelas yang zupper kompak dan saling memotivasi untuk kuliah overseas, itulah starting point niat untuk lanjut kuliah.

Mengikuti IELTS course selama 3 bulan dari jam 9-4 sore, saya masih merasa weak, krn 3 bln IELTS programme yg didevelop oleh DIKTI 1.5 bulannya kita belajar TOEFL, binggung kan ..sama… Dorongan untuk mendapatkan hasil maksimal sangat kuat, karena saya merasa tidak mau menyia-nyiakan kesempatan telah meninggalkan keluarga di Bandung, merantau ke UGM Yogya. Akhirnya bersama 6 teman yang mempunyai semangat yang sama kami mencari Private course, dapatlah di UII, kami ambil kelas jam 7-9 malam.

Akhir Desember saya test IELTS dan hasilnya score 5.5. Sedih… pasti, tapi Mr Imam guru private saya memotivasi “Mbak Restu, Bisa dapat score 6.5..dengan syarat pulang ke Bandung ambil les intensive lagi, karena ini baru fase pengenalan, ketika les yang selanjutnya akan ke tahap paham dan menguasai”.  Saya manut ke advice guru, saya ambil Super Intensive persiapan test IELTS di IEDUC http://www.ieducindonesia.com/ selama 1 bulan, jam 8.30-4.30 senin-sabtu. Bagaimana dengan pekerjaan saya ? tetap saya bertanggung jawab, saya ambil kerjaan bimbingan mahasiswa di hospital, jam 6.30 saya sudah di hospital, kemudian jam 8.15 berangkat les, jam 4.30- 7 malam saya kembali ke hospital.

Mengapa saya pilih IEDUC, bukan iklan, tapi manfaat besar telah saya rasakan: Bimbingan di IEDUC saya rasakan sangat efektif, fokus ke persiapan IELTS, banyak testimoni alumni IEDUC yang telah sukses, instruktur berpengalaman, dan suasana kekeluargaan yang membuat suasana belajar rileks. Februari 2012, saya test IELTS ke 2, dan hasilnya ..jeng..jeng..score 6.5, dengan sebaran Listening 7, Writing 6.5, Reading 6, Speaking 5.5, alhamdulillah bisa dipake untuk apply ke University, walaupun masih ada score yg di bawah 6.

Di univeritas tempat saya kuliah PhD in Nursing, mensyaratkan skor minimal IELTS 6.5 dengan tidak ada yang dibawah 6, dengan sertifikat IELTS yang ada saya di terima, namun saya harus mengikuti programme EPP (English Proficiency Programme) di Victoria University selama 4 bulan http://www.victoria.ac.nz/study/preparing/english-language-prep, dan..berinteraksi dengan English-pun belum usai..saya lanjut belajar to deal with English di NZ from March-June 2013, finally I passed the English requirement.

Pertanyaan berikutnya..apakah dengan IELTS 6.5 berati kamu tidak bermasalah lagi dengan bahasa Inggris saat proses study?…karena English adalah foreign language buat Indonesian, terutama saya, jadi IELTS 6.5 sama sekali bukan jaminan tidak ada ketemu masalah dengan language, kalo diibaratkan, buat saya setelah persyaratan bahasa terpenuhi seperti keluar dari mulut buaya, dan memulai study adalah masuk mulut macan, tapi jangan kawatir macan bisa dijinakkan.. iya tho???…

Keep fighting…inshaallah…target accomplished…

Pengen tahu tentang pengalaman mencari scholarship…stay tuned….

Wellington, 25 April 2017

Restuning Darajat

Restuning.darajat@gmail.com


Leave a comment

Melamar Supervisor untuk PhD overseas

Hai teman, ini tulisan pertama setelah lama pengen nulis di Blog tapi tidak pernah kesampaian, niat sangat besar dari awal mulai kuliah PhD tapi pelaksanaan tertunda, alasan klise tidak ada waktu.

Tulisan ini ditulis justru saat injury time, satu bulan sebelum deadline submit disertasi, saking dah stuck have no idea mo ngapain, karena nunggu feedback supervisors tidak kunjung jua.

Di blog ini eike pengen sharing pengalaman saat berburu supervisor. Pengen nulis ini karena banyak temen yang nanya, Mbak gimana sie cara dapatin supervisor??  Susah ndak sie untuk dapat supervisor overseas?  Eeehhhmmm…pengalaman pribadi sie… ndak susah, hanya time consuming…

Kenapa ndak susah…ini kacamata eike..kalo ada yg punya kacamata beda ya sah-sah sajah..

Banyak advantages dengan adanya mahasiswa PhD bagi supervisor maupun universitas terutama dengan adanya International student.

Pertama membimbing mahasiswa PhD adalah suatu prestasi untuk seorang dosen atau professor, jadi kalo ada calon mahasiswa PhD yang sudah mempunyai topik research yang “menarik” berarti itu peluang untuk dosen atau professor untuk meningkatkan reputasinya sebagai akademisi.

Kedua, berpotensi meningkatkan publikasi ilmiah international, dan itu akan meningkatkan kredibilitas bagi dosen atau professor, serta universitas

Ketiga, untuk universitas yang sudah berorientasi world class university, adanya mahasiswa International disini balon PhD dari negara lain, itu potensi untuk meningkatkan university rank dan menambah koleksi International research di library universitas tersebut.

Keempat, mendatangkan pemasukan untuk universitas, mahasiswa PhD, dengan atau tanpa scholarship akan membayar tuition fee ke universitas, dan itu tidak sedikit jumlahnya

Time consuming…kenapa???

Mencari supervisor yang tepat, diibaratkan seperti kita ngelamar kerja atau kayak cari pacar ….dicari, diobservasi, dipilih, trus tembak dech…(serasa masih ABG 😉 ), ada 2 hal yang pengen eike share disini, pertama tahap persiapan sebelum nembak, dan saat nembak supervisor

Persiapan

  1. Siapin topik penelitian, proposal pendek standard : Introduction, Literature review, dan Metodology. kalo Bahasa English minimalis, seperti saya, saya hanya tulis 3 halaman proposal, 2 halaman deskripsi, 1 halaman bagan, jadi kalo potential supervisor ndak mudeng dengan English kita, dia bisa tebak2 dari diagram yang dibuat dihalaman 3
  2. Beberapa yang lain: ini tidak wajib hanya penunjang saja, untuk lebih menyakinkan kl eike emang niat sekolah, dan capable di jurusan tersebut, misalnya certificate IELTS/TOEFL, atau ijazah S1-S2-spesialis
  3. Tahap ini yang time consuming, setelah niat mo kuliah overseas pikirkan negara tujuan, saya dulu tidak bermimpi untuk ke Australia, dan Thailand karena banyak pakar keperawatan di Indonesia lulusan dari dua negara itu, jadi saya delete dua negara tersebut dari daftar negara tujuan. Impian saya the one and only adalah the USA, karena saat kuliah SI-S2-Spesialis hampir semua buku yang saya baca ditulis oleh pakar keperawatan dari mamarika, rasanya pengen belajar langsung ke sumbernya. Ke dua, UK, karena the majority of teman2 les English mau ke UK, ke 3 New Zeland,  karena beasiswa yang ditawarkan menarik, dan terakhir Canada karena bestfriend anak saya disana terbayang bakalan senang kalau mereka ketemu. Setelah men-set negara tujuan, mulai googling Universitas yang ada Nursing programme di negara-negara tersebut. Buanyak banget..iya..lama buka satu2..iya..sampai pagi, dan saya ambil weekend untuk browsing. Seteleh ketemu universitasnya, explore detail Profile dosen2nya..luama lagi..cari yang penelitiannya kira-kira setopik atau dekat dengan topik kita, atau methodology yang akan kita pakai pernah di-apply sama the potential supervisor.

Saatnya nembak

  1. Buat list potential supervisors, dan alamat emailnya
  2. Kirim email ..pengen dilampirkan contoh email eike dulu..tapi kok yaa malu..English nya masih amatir, japri ajee yee kl pengen tahu detail, intinya
  • Perkenalkan diri, nama dan asal
  • Sampaikan tujuan
  • Sampaikan kenapa interest ke dosen atau professor tersebut
  • Lampirkan proposal dll sebagai bahan pertimbangan
  • Tutup email dengan Thank you, dan Looking forward to hearing from you…katanya sie itu pertanda kita berharap-harap dengan jawaban…

 

Setelah kuliah, baru tahu kalau ternyata email itu dibuka tiap hari sama akademisi bule, pengalaman di Indo dulu, ndak buka email tiap hari hehehe…awalnya heran, kok cepet yaa dapat balasan. 3 lamaran yang dikirim akhirnya ke Texas Women University, karena sudah ada hub bilateral sama FKep Unpad, tempat saya kerja, Leeds Uni UK, dan Victoria University of Wellington, NZ. Tidak jadi ke Canada karena IELTS nya harus 7, terlalu berat untuk saya, yang dapat 6.5 saja harus extra effort. Rata-rata email dibalas 1-2 hari oleh potential supervisors, dan semua jawab OK, kamu tinggal lanjut daftar ke University secara formal dan cari scholarship, begitu kira-kira jawabannya kalau di-translate.

That’s all..pengalaman pribadi saat-saat cari supervisor, setelah dapat supervisor..what’s next??…baca di blog selanjutnya..keep on eyes …

 

Wellington, 25 April, 2017

Restuning Darajat

Restuning.darajat@gmail.com